Rabu, 06 Maret 2013

Treasure hunters at Charity shops


Aah, siapa yang suka belanja barang bekas? My father! biasanya beliau suka beli gramophon tua, piringan hitam, atau apalah yang dia anggap vintage. Tapi kalau apparel bekas...ngg, mikir mikir dulu deh!

Beberapa tahun yang lalu, Anda akan dipandang sebelah mata kalau ketahuan membeli barang di charity shops di Inggris. 

Charity shops sebenarnya menampung barang yang masih dalam kondisi bagus untuk dijual kembali...masih layak pakai. Dan the sweetest ideanya, seluruh hasil penjualan diberikan untuk amal (charity). It’s a brilliant idea, isn’t?

Pakaian yang sudah tidak muat, barang2 yang tidak terpakai tapi memenuhi rumah atau kado pemberian orang yang tidak sesuai (bukan tidak menghargai, tapi mungkin di luar sana ada yang lebih membutuhkan) disumbangkan ke toko amal ini. 

Tetapi bayangkan di Negara maju yang hampir bebas kemiskinan tentu tidak banyak yang memerlukan barang-barang bekas Anda pakai.  Apalagi sampah menjadi salah satu isu penting sehingga orang berusaha mengurangi sampah dengan tidak membuang barang-barang yang tidak diperlukan lagi. Daripada susah ‘membuang’ atau mencari orang yang tepat maka Anda bisa menaruhnya ke charity shops. Disini barang-barang Anda akan disortir dan pakaian yang masih layak, di’steam’ untuk menghilangkan agar bebas dari kerutan

Ada beragam charity shops bisa Anda temui di high streets di Inggris. Oxfam mungkin yang paling terkenal dan ada di hampir semua kota di Inggris tapi ada juga British Heart Foundation, Help the Aged, Cancer Research, YMCA, Debra, Sue Ryder, dan masih banyak lagi.  Bahkan semenjak krisis global ‘credit crunch’ banyak perusahaan retail yang bangkrut dan sekarang toko-toko yang kosong itu banyak disewa charity shops yang semakin menjamur.

Dipicu juga semenjak vintage menjadi trend maka semakin banyak kalangan yang secara reguler berbelanja di charity shops. Kalau dulu hanya para pensiunan yang sudah menjadi pelanggan setia charity shops, akhir2 ini banyak terlihat kaum ibu ‘hunting’ pakaian atau mainan anak di charity shops sambil mendorong pushchair. 

Apa salahnya mampir di charity shops sebelum membeli lusinan baju setiap enam bulan karena pergantian musim dan karena pertumbuhan anak yang pesat?  Ada juga bargain hunters yang datang ke charity shops mencari barang antik yang bisa dijual lagi. Kelompok ini mencari di bagian brick and brack alias barang2 pajangan dan peralatan rumah tangga. Kalau beruntung bisa dijual lagi di auction houses.

 Para kolektor juga rajin mengunjungi charity shops. Jika Anda kolektor vinyl alias piringan hitam yang sedang nge-trend, ini juga surganya. Kebanyakan charity shops juga menampung furniture bekas. Furniture menjadi incaran karena mahalnya harga furniture baru. Sofa, lemari, rak buku, coffee table, drawers.. Yang terakhir, kelompok ‘kutu buku’ atau orang-orang yang senang membaca untuk mengisi waktu luangnya, nah kelompok ini akan langsung ke rak-rak buku. Buku-buku bekas dijual dengan harga sekitar 1-2 pounds. Daripada menghabiskan 8-10 pounds untuk buku baru yang sekali dibaca kemudian didiamkan di rak sampai berdebu.


Yang menarik orang-orang yang bekerja di toko ini adalah tidak mendapat bayaran kecuali manager tokonya. Saya sendiri sempat menjadi volunteers selama hampir setahun. Kolega saya pada saat itu para pensiunan sampai remaja yang mencari pengalaman bekerja karena sulitnya mencari pekerjaan di masa krisis ini.  Setelah hampir dua bulan, saya baru menyadari kalau tidak hanya volunteers yang membantu di toko tapi ada juga yang melakukannya untuk memenuhi community service, biasanya karena melakukan tindakan kriminal ringan. 

Saya sendiri senang memasuki toko-toko ini di kota tempat saya tinggal di waktu luang saya. Saya sudah terbiasa dengan bau khas toko2 ini atau kadang berdesakan di toko kecil yang dipenuhi barang sambil berharap2 akan menemukan harta karun sambil sekalian beramal juga.

Charity shops sangat berguna untuk saya yang sering mempunya hobi
musician. Saya sempat mengoleksi scarf. Scarf sudah lama tidak ngetrend walaupun sekitar 10 tahun yang lalu saya sering memakainya. Sekarang saya menyukai yang agak sophisticated. Bisa dibayangkan betapa senangnya menemukan scarf indah Christian Dior dan Lanvin. Ada juga scarf Gucci yang tidak sesuai kriteria, but hey it’s Gucci!






Saya juga membeli buku dari toko charity shops -- yang kebetulan penulisnya kebanyakan asal Inggris: novel klasik favorit Bronte’s Wuthering Heights; dongeng klasik anak2 Pooh, Wind in the Willows, dan kumpulan cerita karangan Roald Dahl, Beatrix Potter, Enid Blyton; novel populer: dari David Nichols’ Starter for Ten dan One Day sampai trilogi Fifty Shades yang mewabah dua tahun lalu oleh Erika James yang tinggal di West London. 

Malas membawa membawa jaket tebal yang makan tempat di koper atau kesulitan mencari jaket yang hangat di Indonesia ketika Anda berlibur? Masuk saja ke charity shops dan ketika Anda pulang, Anda bisa menyumbangkannya kembali ke toko tersebut..

So next time you’re in England, don’t forget visit the famous charity shops!

As the saying goes..
One man’s trash is another man’s treasure.


Hanna SN

Hanna is KINDERPLAYS Contributor Writer who lives in England 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar